Selasa, 23 Oktober 2012

 HMI Komisariat Adab Dan Humaniora 
Cabang Gowa Raya


 Himpunan Mahasiswa Islam

Sebelum lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam, terlebih dulu berdiri organisasi kemahasiswaan bernama Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) pada tahun 1946 yang beranggotakan seluruh mahasiswa dari tiga Perguruan Tinggi di Yogyakarta, yaitu Sekolah Tinggi Teknik (STT), Sekolah Tinggi Islam (STI) dan Balai Perguruan Tinggi Gajahmada yang pada waktu itu hanya memiliki Fakultas Hukum dan Fakultas Sastra. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta selalu berbau Kolial Belanda. Sering pesta dengan poloniase, dansa serta minum-minuman keras.
Oleh karena Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta dirasa tidak memperhatikan kepentingan para mahasiswa yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Tidak tersalurnya aspirasi keagamaan merupakan alasan kuat bagi para mahasiswa Islam untuk mendirikan organisasi kemahasiswaan yang berdiri dan terpisah dari Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta.
Pada tahun 1946, suasana politik di Indonesia khususnya di Ibukota Yogyakarta mengalami polarisasi antara pihak Pemerintah yang dipelopori oleh Partai Sosialis, pimpinan Syahrir - Amir Syarifuddin dan pihak oposisi yang dipelopori oleh Masyumi, pimpinan Soekiman - Wali Al-Fatah dan PNI, pimpinan Mangunsarkoro - Suyono Hadinoto serta Persatuan Pernyangannya Tan Malaka. Polarisasi ini bermula pada dua pendirian yang saling bertolak belakang, pihak Partai Sosialis (Pemerintah) menitik beratkan perjuangan memperoleh pengakuan Indonesia kepada perjuangan berdiplomasi, pihak oposisi pada perjuangan bersenjata melawan Belanda.
Polarisasi ini membawa mahasiswa yang juga sebagian besar dari mereka adalah pengurus Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta berorientasi kepada Partai Sosialis. Melalu mereka inilah Partai Sosialis mencoba mendominir Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta. Namun mahasiswa yang masih memiliki idealis tidak dapat membiarkan usaha Partai Sosialis hendak mendominir Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta. Dengan suasana yang sangat kritis dikarenakan Belanda semakin memperkuatkan diri dengan terus-menerus mendatangkan bala bantuan dengan persenjataan modern yang kemudian pada tanggal 21 Juli 1947 terjadilah yang dinamakan Agresi Militer Belanda I. Dengan situasi yang demikian para mahasiswa yang berideologi murni tetap bersatu menghadapi Belanda, mencegak setidak-tidaknya mengurangi efek-efek dari polarisasi politik yang sangat melemahkan potensi Indonesia menghadapi Belanda. Karenanya mereka menolah keras akan sikap dominasi Partai Sosialis terhadap mahasiswa yang dinilai akan mengakibatkan dunia mahasiswa terlibat dalam polarisasi politik.
Berbagai hal ini yang mendorong beberapa orang mahasiswa untuk mendirikan organisasi baru. Meskipun sebenarnya jauh sebelum adanya keinginan untuk mendirikan organisasi baru sudah ada cita-cita akan itu, namun selalu ditunda dan dianggap belum tepat. Namun melihat dari berbagai kondisi yang ada dirasa cita-cita yang sudah lama diharapkan itu perlu diwujudkan karena bila membiarkan Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta lebih lama didominasi oleh Partai Sosialis adalah hal yang tidak tepat. Penolakan sikap dominasi Partai Sosialis terhadap Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta tidak hanya datang dari kalangan mahasiswa Islam, melainkan juga mahasiswa kristen, mahasiswa katolik, serta berbagai mahasiswa yang masih menjunjung teguh ideologi keagamaan.

Awal Berdirinya HMI

Himpunan Mahasiswa Islam di prakarsai oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa tingkat I (semester I) Sekolah Tinggi Islam (sekarang Universitas Islam Indonesia (UII)). Ia mengadakan pembicaraan dengan teman-temannya mengenai gagasan membentuk organisasi mahasiswa bernafaskan Islam dan setelah mendapatkan cukup dukungan, pada bulan November 1946, ia mengundang para mahasiswa Islam yang berada di Yogyakarta baik di Sekolah Tinggi Islam, Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada dan Sekolah Teknik Tinggi, untuk menghadiri rapat, guna membicarakan maksud tersebut. Rapat-rapat ini dihadiri kurang lebih 30 orang mahasiswa yang di antaranya adalah anggota Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta dan Gerakan Pemuda Islam Indonesia. Rapat-rapat yang digelar tidak menghasilkan kesepakatan. Namun Lafran Pane mengambil jalan keluar dengan mengadakan rapat tanda undangan, yaitu dengan mengadakan pertemuan mendadak yang mempergunakan jam kuliah Tafsir oleh Husein Yahya. Pada tanggal 5 Februari 1947 (bertepatan dengan 14 Rabiulawal 1366 H), di salah satu ruangan kuliah Sekolah Tinggi Islam di Jalan Setyodiningratan 30 (sekarang Jalan Senopati) Yogyakarta, masuklah Lafran Pane yang langsung berdiri di depan kelas dan memimpin rapat yang dalam prakatanya mengatakan : "Hari ini adalah rapat pembentukan organisasi Mahasiswa Islam, karena semua persiapan yang diperlukan sudah beres".
Kemudian ia meminta agar Husein Yahya memberikan sambutan, namun beliau menolak dikarenakan kurang memahami apa yang disampaikan sehubungan dengan tujuan rapat tersebut.
Pernyataan yang dilontarkan oleh Lafran Pane dalam rapat tersebut adalah :
  • Rapat ini merupakan rapat pembentukan organisasi Mahasiswa Islam yang anggaran dasarnya telah dipersiapkan.
  • Rapat ini bukan lagi mempersoalkan perlu atau tidaknya ataupun setuju atau menolaknya untuk mendirikan organisasi Mahasiswa Islam.
  • Diantara rekan-rekan boleh menyatakan setuju dan boleh tidak. Meskipun demikian apapun bentuk penolakan tersebut, tidak menggentarkan untuk tetap berdirinya organisasi Mahasiswa Islam ketika itu, dikarenakan persiapan yang sudah matang.
Setelah dicerca berbagai pertanyaan dan penjelasan, rapat pada hari itu dapat berjalan dengan lancar dan semua peserta rapat menyatakan sepakat dan berketetapan hati untuk mengambil keputusan :
  • Hari Rabu Pon 1878, 15 Rabiulawal 1366 H, tanggal 5 Februari 1947, menetapkan berdirinya organisasi Himpunan Mahasiswa Islam disingkat HMI yang bertujuan :
  • Mengesahkan anggaran dasar Himpunan Mahasiswa Islam. Adapun Anggaran Rumah Tangga akan dibuat kemudian.
  • Membentuk Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam.
Adapun peserta rapat yang berhadir adalah Lafran Pane, Karnoto Zarkasyi, Dahlan Husein, Maisaroh Hilal (cucu pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan), Suwali, Yusdi Ghozali; tokoh utama pendiri Pelajar Islam Indonesia (PII), Mansyur, Siti Zainah (istri Dahlan Husein), Muhammad Anwar, Hasan Basri, Zulkarnaen, Tayeb Razak, Toha Mashudi dan Bidron Hadi.
Selain itu keputusan rapat tersebut memutuskan kepengurusan Himpunan Mahasiswa Islam sebagai berikut :
Ketua Lafran Pane
Wakil Ketua Asmin Nasution
Penulis I Anton Timoer Djailani, salah satu pendiri Pelajar Islam Indonesia (PII)
Penulis II Karnoto Zarkasyi
Bendahara I Dahlan Husein
Bendahara II Maisaroh Hilal
Anggota Suwali
Yusdi Gozali, pendiri Pelajar Islam Indonesia (PII)
Mansyur

Perkembangan HMI

Sejalan dengan perkembangan waktu, HMI terbelah menjadi dua pasca diselenggarakannya Kongres ke-15 HMI di Medan pada tahun 1983. Pada tahun 1986, HMI yang menerima azas tunggal Pancasila dengan pertimbangan-pertimbangan politis beserta tawaran-tawaran menarik lainnya, rela melepaskan azas Islam sebagai azas organisasnya. Selanjutnya HMI pihak ini disebut sebagai HMI DIPO, dikarenakan bersekretariat di Jalan Pangeran Diponegoro Jakarta. Sedangkan HMI yang tetap mempertahankan azas Islam kemudian dikenal dengan istilah HMI MPO (Majelis Penyelamat Organisasi).
Karena alasan untuk menyelamatkan HMI dari ancaman pembubaran oleh rezim Orde Baru, maka melalui Kongres Padang disepakatilah penerimaan asas tunggal Pancasila. Setelah penerimaan azas tunggal itu, HMI yang bermarkas di Jalan Diponegoro sebagai satu-satunya HMI yang diakui oleh negara. Namun pada Kongres Jambi 1999, HMI (DIPO) kembali ke kepada asas Islam. Namun demikian, HMI DIPO dan HMI MPO tidak bisa disatukan lagi, meski azasnya sudah sama-sama Islam. Perbedaan karakter dan tradisi keorganisasian yang sangat besar di antara keduanya, membuat kedua HMI ini sulit disatukan kembali. HMI DIPO nampak lebih berwatak akomodatif dengan kekuasaan dan cenderung pragmatis, sementara HMI MPO tetap mempertahankan sikap kritisnya terhadap pemerintah. Sampai saat ini, HMI merupakan salah satu organisasi mahasiswa terbesar dan tertua di Indonesia.

Minggu, 09 September 2012

   SATU KOMANDAN UNTUK SATU SULAWESI SELATAN
 @Syahrul_YL Twitter
 http://www.syahrulyasinlimpo.com





Makassar,--
Menteri Lingkungan Hidup, Beerth Kambuaya, menilai Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo sebagai orang yang ekstra ordinary person atau orang yang memiliki kemampuan di atas manusia biasa atau luar biasa. Hal tersebut diungkap Beerth di sela-sela acara Pembekalan Lingkungan Hidup Bagi Pramuka, Kerjasama Pusat Pengelolaan Ekoregion Sumapapua, Kementrian Lingkungan Hidup dengan Kwartir Gerakan Pramuka Sulawesi Selatan, di Hotel Aryaduta Makassar, Rabu (5/9)
Ia mengungkapkan, Syahrul adalah pemimpin yang punya komitmen tegas dan jelas terhadap pelestarian lingkungan hidup. Pasalnya, pendidikan dan kesehatan akan baik jika lingkungan baik."Kalau ada pemilihan kepala daerah, pilih yang care terhadap lingkungan. Kalau saya orang Sulsel, saya akan pilih lagi Pak Syahrul," ujarnya. (Beerth KambuayaMenteri Linkungan Hidup)

Jumat, 07 September 2012


Ikatan Pemuda Pelajar (IPPM)
Pangkajene Dan Kepulauan (Pangkep)
Koord.UIN Alauddin Makassar
Sekretariat : Jl.Mannuruki II no.24 Makassar

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
KUALLEANG NGI TALLANGA NA TO WALIA (LEBIH BAIK TENGGELAM DARI PADA KEMBALI TAK MEMBAWA HASIL)


Saka Bhayangkara
 
Satuan Karya Pramuka (Saka) Bhayangkara adalah wadah kegiatan kebhayangkaraan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam bidang keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), guna menumbuhkan kesadaran berperan serta dalam pembangunan nasional.

Tujuan dibentuknya Saka Bhayangkara adalah untuk mewujudkan kader-kader bangsa yang ikut serta bertanggungjawab terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat melalui pendidikan kebhayangkaraan di dalam Gerakan Pramuka.

Saka Bhayangkara meliputi 4 (empat) krida, yaitu :

1. Krida Ketertiban Masyarakat
2. Krida Lalu Lintas
3. Krida Pencegahan dan Penaggulangan Bencana
4. Krida Tindakan Pertama Tempat Kejadian Perkara (TPKP)





Krida Ketertiban Masyarakat, terdiri atas 4 SKK

1. SKK Pengamanan Lingkungan Pemukiman
2. SKK Pengamanan Lingkungan Kerja
3. SKK Pengamanan Lingkungan Sekolah
4. SKK Pengamanan Hukum


Krida Lalu Lintas, terdiri atas 3 SKK :

1. SKK Pengetahuan Perundang-undangan/Peraturan Lalu Lintas
2. SKK Pengaturan Lalu Lintas
3. SKK Penanganan Kecelakaan Lalu Lintas


Krida Pencegahan dan Penanggulangan Bencana, mempunyai 7 SKK :

1. SKK Pencegahan Kebakaran
2. SKK Pemadam Kebakaran
3. SKK Rehabilitasi Korban Kebakaran
4. SKK Pengenalan Kerawanan Kebakaran
5. SKK Pncurian
6. SKK Penyelamatan
7. SKK Pengenalan Satwa


Krida Tindakan Pertama Tempat Kejadian Perkara (TPKP), mempunyai 5 SKK :

1. SKK Pengenalan Sidik Jari
2. SKK Tulisan Tangan dan Tanda Tangan
3. SKK Narkotika dan Obat-Obatan
4. SKK Uang Palsu
5. SKK Pengamanan Tempat Kejadian Perkara



By Zulkifli saka Bhyangkara Cab.Pangkep
Sekretariat saka Bhayangkara Cab.Pangkep : Jl.Cempaka No.3 Aspol II , Kec.Pangkajene Kab.Pangkep


 DON'T STOP KOMANDAN

Ka.KWARDA SULSEL Perd.2012-2017
 
 
Ketua Majelis Pembimbing Daerah yang juga merupakan Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Sulsel, Dr H Syahrul Yasin Limpo, menyebut jika istilah Don’t Stop Komandan yang belakangan sering disebut sebagai tagline politik, merupakan kata dan semangat Pramuka. Kalimat tersebut juga mengandung makna never give up, pantang menyerah. “Don’t stop komandan itu bukan tagline politik. Tapi, kata Pramuka. Kalau dalam mencapai tujuanmu ada tembok penghalang di depanmu, don’t stop, tapi jangan ditabrak. Jangan menyerah, berusahalah melewati tembok itu,” tegas Syahrul di sela-sela pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Gerakan Pramuka Sulawesi Selatan, yang dilaksanakan di Baruga Sangiaseri

Kamis, 06 September 2012


PW Daerah Sulawesi Selatan

Perkemahan Wirakarya (PW), adalah pertemuan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega berbentuk perkemahan besar, dalam rangka mengadakan integrasi dengan masyarakat dan ikut serta dalam kegiatan pembangunan masyarakat. PW diselenggarakan oleh semua jajaran kwartir secara reguler, khusus untuk PW Nas, diselenggarakan apabila dipandang perlu.
Kontingen Kwarcab Pangkep Mengirim 20 Peserta dimana 10 Peserta Pa berasal dari Gudep 01.001 SMA Neg.1 Pangkajene dan 10 Peserta Pi dari Gudep SMA Neg.1 Segeri

PW Daerah Sulawesi Selatan dilaksanakan pada Januari 2010 berlokasi di Buper Buttu Sawe Kab.Pinrang yg diikuti oleh Semua Kwartir Cabang se-Sulawesi selatan
1000 Pramuka Garuda Sulawesi selatan

Pramuka Garuda ialah tingkatan tertinggi dalam setiap golongan Pramuka (Siaga, Penggalang, Penegak, Pandega). Pramuka Garuda diatur dalam Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 101 tahun 1984 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Pramuka Garuda.

 Pramuka Garuda Penggalang Dan Penegak asal Kwarcab Pangkep Bersama Ka.Kwarcab Pangkep

Tanda Pramuka Garuda Untuk Semua Golongan

Pramuka Sulawesi Selatan Raih Rekor MURI

Gubernur Sulawesi Selatan, H. Syahrul Yasin Limpo memelopori pembentukan Pramuka Garuda dengan ciri-ciri kegiatannya, anggota akan mendapat pembekalan khusus selain keterampilan yang lazim diberikan dalam kegiatan pramuka biasa. Pramuka Garuda diharapkan ikut mengatasi masalah pemuda, terutama yang membutuhkan pekerjaan. Menyandang Pramuka Garuda berarti siap menolong dan menjadi contoh bagi gugus-gugus lainnya.
Menurut H. Syahrul yang juga merupakan ketua Kwartir Daerah Sulawesi Selatan, kalau di TNI Angkatan Darat ada Kopassus maka Pramuka memiliki Pramuka Garuda. Jumlah anggota Pramuka Garuda Sulawesi Selatan sebanyak 1.591 orang. Mereka yang akan mengikuti pelatihan intensif ini terbagi dalam kelompok siaga 190 orang, penggalang 800 orang, penegak 585 orang dan pandega 16 orang. Jumlah tersebut kemudian dicatat oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MuRI) sebagai upacara pelantikan terbanyak. Sebelumnya, MuRI juga menobatkan Sulawesi Selatan sebagai penyelenggara acara makan dan minum hasil olahan rumput laut. Makan bersama ini diikuti sekitar 1.500 orang, yang datang dari berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan.
Senior Manager MuRI, Paulus Pangka yang turut hadir dalam acara pelantikan 1.000 anggota Pramuka Garuda Kwartir Sulsel di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, mengatakan pelantikan pramuka ini merupakan pertama kalinya digelar di Indonesia dan tercatat sebagai pelantikan yang dihadiri peserta terbanyak, yang mencapai 1.591 orang dan meraih rekor MuRI. Sementara itu, Ketua Harian Kwartir Pramuka Sulsel, H.M. Roem mengungkapkan program pelantikan 1.000 anggota Pramuka Garuda di sulsel tidak mudah karena merupakan event pertama di Indonesia dan yang dilantik sebanyak 1.591 orang dari 1.000 orang yang ditargetkan. Pelantikan tersebut juga dihadiri sejumlah bupati dan Walikota Makassar, H. Ilham Arief Sirajuddin serta Walikota Parepare.
(Senin, 08 November 2010)